Short Trip to Prau & Dieng Plateau

by - 11:57 PM



It's been a long long time no see..

Cukup keget waktu login dan ­ngecek statistik blog, ternyata yang visit banyak sekali. Nggak nyangka! Thankyou so much ya teman-teman yang mau baca. Akhirnya itu juga yang bikin saya semangat buat nulis lagi. Hihi.

Fyi, guys. Hidup banyak berubah sejak terakhir kali saya nulis. Dulu mau kemana aja kapan aja bisa, asal ada duitnya sih. Sekarang.. hhmmm.. butuh extra-management sebelum hepi-hepi. That’s my new chapter of life. Tapi gimana-pun, passion is passion. Kalau itu bikin jantungmu berdebar dan merasa hidup, kejar dan jangan pernah ditinggalkan.

Kali ini Wonosobo, kota kecil di Jawa Tengah menjadi destinasi pilihan saya. Akan lebih akrab bagi teman-teman kalau destinasi yang saya sebut Dataran Tinggi DiengTerletak 30 km dari pusat kota, tepatnya berada di antara perbatasan Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, banyak tempat yang asik disana. Wisata Dieng disebut juga sebagai tempat persemayaman para dewa dewi, saking bagusnya.

Tapi to be honest, yang bikin saya tertarik adalah Gunung Prau, puncak tertinggi Dieng. Berada pada ketinggian 2.565 mdpl, puncak Gunung Prau dikenal sebagai salah satu sunrise point terbaik di Indonesia. 

Segeralah saya mengumpulkan informasi. Menurut referensi teman, ada beberapa rute perjalanan menuju ke Wonosobo dari Surabaya. Via Magelang atau via Semarang, saya pilih opsi Semarang setelah review beberapa artikel di google. Keduanya menempuh waktu rata-rata sekitar 14 - 15 jam untuk sekali jalan. Hehe, lumayan yah.


Saya cuma punya hari Sabtu dan Minggu untuk trip  ini. Even tidak terlalu pintar dalam perhitungan, tapi saya yakin saya punya cukup waktu. Jaket, Sleeping bag, jas hujan ponco, tracking pole, kamera, dan perlengkapan lain hanya sempat saya siapkan sehari sebelum berangkat. Berhubung persiapan cukup mendadak dan kangen solo trip, ya sudah saya berangkat sendirian (lagi). 


Surabaya – Semarang

Setelah make sure semua perlengkapan telah masuk dalam ransel, sepulang kantor saya berangkat menuju terminal Purabaya (Bungurasih). Armada bus menuju Semarang tersedia dari kelas ekonomi hingga bisnis (patas), tentu saja tarif dan lama perjalanan berbeda. Selain bus, alternatif transportasi lain yang ekonomis dan praktis adalah kereta api. Sekitar jam 10 malam saya sampai di terminal. Padatnya penumpang saat weekend membuat saya kesulitan menemukan bus yang bisa saya tumpangi, apalagi saya kemalaman. Dari jauh, bus ekonomi berwarna hijau pelan-pelan mulai berangkat. Kondektur berteriak “Semarang terakhir .. terakhir ..”. Menurut petugas terminal, memang bus itu merupakan bus terakhir hari ini. Jadilah saya lari kencang demi mengejar bus hijau yang ternyata didalamnya sudah penuh sesak penumpang. Saya pikir akan berdiri sepanjang perjalanan, tiba-tiba seorang penumpang turun karena salah naik bus. Horeee.. nggak jadi berdiri.


Solo trip memang harus lebih hati-hati dan waspada. Apalagi kalau perjalanan malam hari dan busnya penuh sesak begini. Makanya saya kuat-kuatin melek berjam-jam. Normal perjalanan Surabaya – Semarang via darat adalah 8 jam. Tapi karena perjalanan malam hari dan jalur pantura cukup sepi, bus hanya butuh waktu 6 jam untuk sampai Semarang.


Semarang - Wonosobo
Terminal Terboyo hari Sabtu (30 Mei 2015) jam empat pagi, sepi, gelap, dan lumayan dingin. Dari sini saya harus ganti kendaraan menuju Wonosobo. Setelah satu jam menunggu, bus besar vintage datang pelan-pelan. Penumpangnya hanya saya dan dua orang bapak-bapak yang langsung tidur nyenyak dibelakang. Saat hari mulai terang, saya jadi makin excited melihat suasana pagi berbagai daerah yang saya lewati. Semarang - Ungaran - Ambarawa - Parakan - hingga Wonosobo.



Sejuk segar. Kok nggak dari kemarin-kemarin aja saya main kesini. Makin siang bus makin penuh. Saya pikir perjalanan hanya 3-4 jam, ternyata jauh. Sebenarnya tidak begitu terasa, toh sepanjang perjalanan saya ngobrol dengan penumpang lain dan selebihnya tiduuuuurrr. Dalam kelaparan dan kumus-kumus setelah 7 jam perjalanan akhirnya sampai juga di Wonosobo. 


Wonosobo - Dieng

Perjalanan masih belum berhenti. Setelah 12 jam duduk dalam bus, saya masih harus pindah ke mikrobus untuk menempuh 30 km dari kota Wonosobo menuju kawasan wisata Dataran Tinggi Dieng. Jalannya cukup lengang, tidak begitu padat penduduk. Hawanya sejuk, banyak sawah, perkebunan sayur dan buah. Menyenangkan sekali. Banyak juga backpacker seperti saya datang kesana pada waktu itu. Indeed, itu kan weekend. Kira-kira satu seperempat jam saya tiba di gate Dieng. "Wiiih.... Asik", I couldn't say anything else.


Dieng Plateau


Turun dari mikrobus saya cuma diam, tarik nafas, sambil mata saya keliling menjelajahi pemandangannya. Ya ampuun.. ini worth it setelah perjalanan panjaaaaang, jadi wajar norak. Untung saya sendirian, jadi bebas ya kan mau norak gimana aja. Saya mampir ke sebuah toko untuk beli perlengkapan dan logistik. Tidak jauh dari sana, saya bertemu dengan teman-teman satu perusahaan tapi beda kantor. Ternyata mereka juga sedang berlibur kesana. Yeyeye .. bisa nebeng ke beberapa spot.

Makasi, Mbak-Mas .. Boleh nebeng :))
Kawah Sikidang

Masih terlalu siang untuk mendaki ke Prau, jadi saya putuskan gabung dengan teman-teman untuk berkeliling ke kawasan wisata Dieng. Kawah Sikidang menjadi lokasi pertama yang saya kunjungi, kawah yang airnya selalu mendidih dan menyemburkan gas yang beraroma belerang. 


Hehe .. Ini foto sahabat saya didepan gate Kawah Sikidang
Kawah Sikidang tidak berada di puncak gunung, melainkan di daratan yang menyerupai sebuah sumur. Pengunjung dapat merebus makanan hingga matang dalam air kawah yang panas. Ada juga kuda dan ATV yang di sewakan untuk berkeliling di sekitar kawah.

Saya sendiri lebih tertarik ngobrol  dengan bapak-bapak penjual souvenir khas Dieng. Bunga Edelweiss kering warna-warni, belerang, sayur dan buah-buahan, serta yang paling menarik adalah potongan kayu yang punya tekstur cantik secara alami. Saya lupa pastinya apa jenis kayu tersebut, teksturnya teratur seperti batik. Pak Arifin menjual souvenir kayu tersebut 15-25 ribu rupiah sesuai ukurannya. Beruntungnya, saat pamit saya malah dikasih souvenir gratis dari Bapak-nya. Terima kasih, Pak Arif.


Karena selfie is too mainstream


Saya, Pak Arif, dan souvenir-nya
Selain Kawah Sikidang, terdapat juga kawah-kawah lain yang masih berada di kawasan Dieng yaitu Kawah Sikendang, Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, Kawah Sinila, Kawah Timbang, Kawah Pager Kandang dan Kawah Sipandu. Tapi sayang saya tidak sempat berkunjung, next time lah ya.

Batu Pandang

Salah satu spot wajib yang perlu dikunjungi saat berwisata ke Dieng adalah Batu. Letaknya tidak terlalu jauh dari Kawah Sikidang namun berada di area yang lebih tinggi. Batu Pandang merupakan perbukitan yang berada satu lokasi dengan Dieng Plateau Theater. Teater tersebut menayangkan film pendek berdurasi 20 menit tentang keindahan alam dan keanekaragaman budaya Masyarakat sekitar serta aktifitas vulkanik gunung berapi yang ada di Dataran Tingggi Dieng.

Pemandangan Telaga Warna dari Atas Batu Pandang 

Menuju Batu Pandang ditempuh dengan berjalan kaki selama sekitar 10 menit. Jalan sempit menanjak dengan matahari yang cukup terik sama sekali tidak berarti saat sampai di atas kemudian disambut pemandangan Telaga Warna yang dikelilingi tanaman hijau serta Gunung yang berderet. Baguuuus!! 

Telaga Warna dan Telaga Pengilon

Setelah amazed lihat dari atas Batu Pandang, kemudian saya turun untuk mampir ke Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Uniknya, akibat kandungan belerang didasar airnya jika dilihak dari kejauhan Telaga Warna akan membiaskan warna yang berbeda-beda . Sedangkan Telaga Pengilon yang terletak besebelahan tidak terpengaruh belerang dan memiliki air yang jernih.

Telaga Warna
Telaga Pengilon
Selain kedua telaga  tersebut, setidaknya ada 3 goa yang berada dalam area yang sama. Goa Semar, Goa Jaran, dan Goa Sumur. Pada waktu tertentu, ketiganya sering digunakan sebagai tempat bertapa bagi yang percaya. Oyaa.. disana saya juga bertemu dengan teletubies. Ternyata mereka juga jago joget, lucu kan yah..


Sebelum move, saya penasaran untuk mencoba flying fox melintang diatas telaga warna. Jauh-jauh perjalanan kemari, tidak boleh kesempatan saya lewatkan. Namanya juga short trip .. setiap lokasi dihampiri dengan waktu yang singkat, asal rata. Sebagai penutup perjumpaan, saya sempatkan foto bersama teman-teman yang baik yang mau kasih saya tumpangan. Iya, kami berpisah disini dan melanjutkan perjalanan masing-masing. 



Have a nice holiday, guys. See you!
Menemukan tempat seru membuat saya lupa belum isi perut. Saya mampir ke salah satu warung lokal yang menyediakan makanan khas Dieng, Mie Lotek namanya. Sejenis mie ayam yang disajikan dengan bakso, tahu, dan sate lengkap dengan bumbu kacang plus secobek sambal ijo. Rasanya enaaaak sekaliii dan porsinya lumayan besar, pas untuk yang kelaparan dari pagi.

Satu set Mie Lotek, yummy!
Time goes so fast. Apalagi kalau dinikmati. Tiba-tiba matahari mulai say good bye, adzan magrib mempertegas bahwa malam akan segera datang. Cukup kenyang dan istirahat, kemudian saya lanjut menuju ke start point Gunung Prau. Super excited!

Gunung Prau

Kembali sendirian dengan semangat yang semakin menyala. Sepanjang perjalanan, saya menemukan 3 pos jalur pendakian, Patak Banteng, Dieng Kulon, dan Kendal. Menumpangi mikrobus terakhir, kira-kira 15 menit dari warung mie lotek di kawasan Dieng, saya sampai di pos pendakian Patak Banteng.

Jika dibandingkan dengan dua jalur lainnya, jalur Patak Banteng memakan waktu yang relatif lebih cepat dengan jarak yang lebih dekat. Senang? Jangan dulu. Meskipun cepat, butuh ekstra tenaga, kesabaran, dan niat untuk melewati medan yang sangat menanjak. Itu sih kata google yang sebentar lagi akan saya buktikan. Sekitar pukul 8 malam saya sampai di pos pendakian Patak Banteng. Pos masih lengang, belum begitu banyak orang. Menyelesaikan retribusi dan administrasi, kemudian saya tidur di pos. 

Meski langit relatif cerah, tapi angin cukup kencang. Udara mulai dingin. Semula saya ingin mulai berjalan sekitar pukul 10, melihat kondisi angin, saya tunda hingga sekitar pukul 12. Makin malam, suasana di pos makin ramai. Pendaki mulai datang. Informasi dari petugas loket, jumlah pendaki saat itu sekitar 700 orang. Fyi, itu hanya yang berangkat dari Patak Banteng, belum termasuk dua jalur lainnya. Ckckck ...

Suasana di Pos Patak Banteng

Saya akhirnya berangkat pukul setengah 1 dini hari. Sepi sekali, belum banyak berpapasan dengan pendaki lain. Tentu tidak ada yang bisa diperhatikan selain jalan setapak yang sudah dipersiapkan melewati pemukiman dan banyak sawah. Medannya masih relatif datar dan lebar. Tidak begitu jauh, kira-kira 15 menit dari basecamp kita akan bertemu dengan para penjaga di pos pertama.

Petugas akan memeriksa tiket di pos pertama serta memberi arahan. Untuk melanjutkan perjalanan dari pos I menuju pos II, pendaki berbelok ke kiri. Lepas dari pos pertama ini, jalannya jadi lebih berbatu dan sempit. Masuk dalam area kebun dan sawah milik warga sekitar. Jika lelah atau lapar saat perjalanan, masih ada beberapa gubug-gubug warung ditepi sawah yang menjual makan dan minum buka hampir 24 jam.


Tiba di pos II dan menuju ke pos III, pendaki memasuki hutan gunung prau. Hutan lebat dengan dominasi pohon cemara dan pinus. Perjalanan akan semakin berat dengan medan panjang yang terjal, berbatu, serta menanjak. Pada musim peralihan seperti kemarin, tanahnya masih cukup licin. Akar pohon dan batu-batu besar akan mempermudah kita berpijak. Bahkan kadang harus climbing pelan-pelan, berpegangan pada batu atau tanaman saat tanjakan curam. Pos II menuju pos III perjalanan merupakan yang terpanjang dalam rute ini. Butuh waktu sekitar 45 menit untuk sampai pos III. Tidak akan sempat mengambil gambar karena tangan sibuk berpegangan, cukup menguras tenaga.

Melewati pos III, perjalanan mulai terasa ramai. Banyak pendaki yang berpapasan saat berjalan. Sebagian besar datang bersama rombongan. Advice untuk para pendaki yang berkelompok, penting menjaga sikap agar tidak mengganggu bahkan merugikan orang lain. Perjalanan bersama kawan memang seru dan menyenangkan, tapi kita perlu menghormati yang lain dimanapun, kapanpun. Sebaiknya tidak berteriak-teriak di hutan jika memang tidak perlu, berguraulah asal tidak berlebihan bahkan membahayakan, serta tidak berhenti dan duduk ditengah jalan sehingga menghalangi orang berjalan. Yaa, ini juga akan menjadi catatan untuk saya sendiri kedepannya nanti.


Well,  30-40 menit saya berjalan dari Pos III dan sampai di bukit yang digunakan sebagai lokasi camp. Hampir sama dengan pos II menuju pos III, perjalanannya nggak santai. Saat jalan mulai terasa landai berarti kita sudah hampir sampai di bukit, selamat! Ternyata Bukit Teletubies bukan cuma Bromo yang punya. Puncak Gunung Prau yang landai dengan gundukan bukit berumput hijau dikenal sebahai Bukit Teletubies.


Minggu, 02.50 dini hari saya sampai dititik 2.565mdpl, puncak Gunung Prau. Benar sekali, ratusan tenda telah didirikan hingga menutupi bukit yang luas. Lautan manusia padat berkumpul diatas gunung. Fiuuuh..


Angin makin kencang. Meski sebenarnya suhu udara tidak begitu ekstrim, tapi ulah angin membuat jaket hingga tulang ditembus dingin. Brrrr... Terpikir mendirikan bivak dari jas hujan yang saya bawa, tapi nanggung harus mencari spot diantara tarusan tenda yang padat itu. Sambil menunggu pagi, saya join dengan pendaki-pendaki yang sedang ngaso, menghangatkan diri dengan api unggun dan kopi didepan tenda mereka. Matahari mulai terbit. Sinar jingga merona pelan-pelan datang mengusir gelap. Manusia-manusia dalam tenda kemudian keluar. Semua segera mencari tempat untuk diam dan mengaggumi pertunjukan tangan Tuhan. It's show time.


Saat di gunung begini, tanpa sepasang sepatu high heels, saya hanyalah gadis 'seratus-enam-puluh coret'. Pendek. Sunrise saya tertutup punggung mereka yang lebih tinggi. Nggak rela, dong. Berpindahlah saya ke beberapa spot yang lebih tinggi sampai akhirnya menemukan semacam bangunan penanda wilayah Wonosobo yang sudah pasti langsung saya naiki. Yeeeeyey, berhasil dong kelihataaaan!


Makin lama gradasi langit jadi semakin epic. Warna biru mulai tersapu, kuning emas sampai jingga merekah sempurna. Kapanpun dan dimanapun, beribu kali menyaksikan sekalipun, menikmati matahari terbit selalu berhasil membuat saya takjub sampai benar-benar hilang kata. StunningKereeeeen bangeet ya Tuhan itu bikin apa-apa! 
Here comes the sun :) 

Sindoro dan Sumbing yang mesra
Gunung Prau memang cantik sekali saat pagi. Framing-nya pas . Bukit, lautan awan, dan pemandangan Gunung Sindoro dan SumbingPemandangan puncak makin manis saat matahari bertambah tinggi. Padang rumput Gunung Prau juga ditumbuhi Bunga Daisy berwarna-warni. 





Beberapa saat mengambil gambar, tiba-tiba kamera yang saya bawa mati. Haaaah.. sedihnya belum selesai foto. Sepenuh harapan saya otak-atik kamera, berharap jangan mati dulu sebelum pulang. Mas Basith, seorang fotografer dan temannya kemudian lewat. Mungkin saya kelihatan putus asa dengan kamera ditangan yang tidak bisa menyala. Ternyata tipe kamera yang kami bawa sama persis. Ia coba membantu, ternyata tetap belum bisa menyala. Sebelum akhirnya saya pamit turun, Mas Basith yang baik hati mengambil foto untuk saya. "Biar bisa buat ganti dp (display picture)", katanya. Hehehe.. Thankyou anyway.


Indeed, superexcited!
Nice to meet you, Mas Basith and friend.

Hampir lupa waktu, tiba-tiba sudah hampir jam 8. Karena estimasi waktu perjalanan pulang sekitar 12-15 jam, saya harus buru-buru agar bisa tetap ngantor besok pagi. Turun dengan jalur sama dengan yang saya lewati semalam. Pemandangan sepanjang perjalaanan sangat indah saat hari terang.




Terlihat juga bagaimana kondisi jalan yang saya lewati tadi malam. Berbatu, terjal, dan agak licin. Medan seperti ini membuat kaki jauh lebih lelah saat turun. Hati-hati.



Ada bagian perjalanan yang sangat berkesan saat saya di Gunung Prau. Saat saya sibuk selfie, seseorang berdiri didepan, diam, dan terus melihat kearah saya. Saya nggak sadar sampai melihat beberapa lama kearah orang yang ternyata sangat saya kenal. Namanya Zulfahmi Fauzan, teman paling gila dari Medan yang beberapa tahun terakhir move ke pulau Jawa. Surprised  melihat wajah songong-nya muncul didepan saya. Lebih kaget lagi karena munculnya di Gunung Prau. Padahal kami nggak janjian. Makin meriah perjalanan pulang saya dengan suara cempreng-nya. Sampai di pos pendakian, saya dan Zul mampir ke toko terdekat untuk mencicipi Carica, buah khas Dieng yang masih sekeluarga dengan pepaya. Carica juga diolah menjadi minuman kemasan yang manis dan pas untuk oleh-oleh. 



Rencana pulang saya berubah total setelah bertemu Zul. Ide gila Zul menantang saya pulang bersama naik sepeda motor. Kebetulan jalur kami sama, hanya saya harus lanjut sendiri dari Tuban menuju ke Surabaya. Lebih gila lagi, saya terima tantangannya. Setelah makan siang, kami membeli helm untuk saya. Kami benar-benar menempuh 10 jam perjalanan dari Dieng hingga ke Tuban dengan sepeda motor. Dan masih sempat-sempatnya mampir keliling Kota Semarang, Zuul!

The Double Trouble siap pulang!
Bonus. Dalam perjalanan kami bertemu dengan Anak Gimbal. Salah satu bucket list saya dalam perjalanan ini memang bertemu Anak Gimbal. Masyarakat di kawasan Dieng mempercayai bahwa anak-anak berambut gimbal merupakan karunia atau anugerah dari para Dewa. Menurut warga sekitar, anak gimbal sudah tidak sebanyak dulu. Jika tidak punya cukup waktu, saya tidak akan sempat bertemu. Saat kami selfie, tiba-tiba seorang anak berambut gimbal berjalan santai tepat diseberang kami. Penuh penasaran, saya kejar. Namanya Bagus, Ia merupakan salah seorang anak yang akan menjalani ritual potong rambut yang digelar dalam acara Dieng Festival bulan Juli mendatang.


Senin dini hari setelah berpisah dengan Zul di Tuban dan lanjut via bus, saya akhirnya sampai di Surabaya dengan selamat. Thank's God, dijagain sepanjang perjalanan. Rasanya fresh, I feel alive! Saya namakan ini perjalanan solo trip gagal karena walau pergi sendiri - pulang sendiri, saya tidak pernah merasa benar-benar sendirian. Entah bertemu dengan orang baru, atau teman lama yang mengejutkan.

Cerita soal perjalanan memang nggak pernah ada habisnya. Setiap kali kaki mulai melangkah, entah lewat bicara atau menulis, saya selalu ingin cerita kepada dunia tentang apa yang mata saya lihat. Well, travelling really leaves me speechless, then turns me into a story teller. Sampai cerita berikutnya. Thankyou for reading, guys

You May Also Like

10 comments

  1. GILA!!!!!
    Dari surabaya, sendirian, cewek.
    KEREN!! EDAN INI ORANG!!!
    Lo nulisnya juga provokatif banget. Jempoll!!!

    ReplyDelete
  2. kak, waktu naik ke prau kakak sendirian aja atau nebeng pendaki lain? terus kalau sendiri gt gmn kakak bikin tendanya? soalnya aku mau ke dieng nih kak bulan agt, dan sendiri juga, mau lihat DCF, tp sayang banget kalau kedieng ga naik ke prau. pengen ke prau tp blm pernah naik gunung. jadi bingung kalau sendiri gt gmn kita bisa bikin tendanya. thanks ya kak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, Mbak Ratna :)

      Baru sempet buka blog. Sebaiknya naik dini hari aja kalau belum pernah naik gunung sendiri dan bikin tenda. Mbak Ratna bisa transit dan istirahat dulu di pos sampai kira-kira jam 2 lalu mulai mendaki. Itu lebih praktis. Goodluck.

      Delete
  3. WAAAAAAAA. Waktu pertama mikir ke prau sendiri gmn ya. And this blog menyakinkan saya lagi untuk solo trip ke sana! Thank you mbak! Happy bgt deh baca tulisannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yey, you can do it! Jangan lupa tetap hati-hati ya mbak.. Good luck.

      Delete
  4. mbak boleh minta email? mau tanya2 nih

    ReplyDelete
  5. Total budget pengeluaran selama disana habis berapa ya mbak?
    Habis baca blognya jd pengen pergi kesana sendirian jg

    ReplyDelete