Sendirian di Nepal (Part 5) : Makanan Bergizi, Sehat, Berenergi!

by - 10:34 AM




Food becomes a part of travel, even when you least expect it ~
katanya sih gitu. Bagi sebagian orang memang belum lengkap rasanya travelling tanpa mencoba kuliner baru. Bahkan banyak juga yang tujuan perjalanannya justru culinary tourism.


Saya (belum) termasuk aliran itu. Meskipun bantet begini, sebenarnya dari kecil Saya nggak terlalu hobi makan. Tapi lain cerita kalau lagi travelling atau diajakin teman, mau makan apapun - dimanapun - kapanpun jadi lebih easy-going.


Ngomong-omong soal makan, mayoritas masyarakat Nepal beragama hindu, sama seperti di Bali. Mengonsumsi daging Sapi merupakan hal terlarang, sebagai pengganti, mereka makan daging kerbau (buff), ayam, pork, atau kadang ikan. Bagi teman-teman yang tidak makan pork, perlu lebih aware karena tidak ada keterangan kecuali kita bertanya. Opsi paling aman, dihampir seluruh tempat makan selalu menyediakan berbagai olahan sayur dengan bumbu kari.


Nah, selama perjalanan di Nepal ada banyak makanan yang Saya coba. Beberapa makanan khas, yang lainnya mungkin biasa ditemukan dimana saja. Sebagian enak, tapi ada juga yang sekedar nice-to-have. Inilah daftarnya :


Momo

Ini adalah makanan pembuka yang pertama kali Saya coba setelah tiba di Nepal. Referensi blog dan artikel manapun hampir tidak pernah absen mention makanan tradisional yang mirip Dimsum atau Siomay versi Nepal. Tampilannya sangat menarik. Kita bisa memilih Momo dengan isian daging buff, ayam, atau vegetarian lengkap disiram bumbu kari sebagai saus pendamping. Porsinya terlihat tidak begitu besar, tapi ternyata sangat kenyang. Perpaduan rasa kari dan rempah pada bagian dagingnya sangat kuat. Rempah juga menimbulkan rasa hangat yang pas untuk menghadapi suhu 5 derajat sore itu.

Proses pembuatan Momo


Menurut Ram Chandra, kedai yang menyediakan Momo paling juara ada di kawasan Dharahara, sekitar 15 menit dari Thamel dengan menggunakan taksi. Harganya NPR 90 - 150 per porsi. Untuk mencicipi Momo di kedai tersebut, kita perlu bersabar karena antriannya cukup panjang.


Dal Bhat

Suapan pertama saat mencicipi Dal Bhat, seketika mengingatkan Saya pada Nasi Padang. Namun bedanya bumbu rempah dan kari yang digunakan sangat kuat, khas masakan Nepal. Makanan ini sangat mudah ditemukan diberbagai tempat di Nepal, termasuk saat pendakian ke ABC.

Dal Bhat biasanya disajikan pada loyang besi yang diatasnya tertata rapi nasi, beberapa jenis sayur bumbu kari, sambal (Saya lupa sebutannya), dilengkapi lauk berupa ikan atau udang. Satu porsi Dal Bhat dapat dimakan untuk tiga orang seukuran Saya. Overall, rasanya bisa diterima. Satu-satunya masalah adalah Saya tidak suka nasi.




Dal Bhat Power!
Salah satu kedai Dal Bhat paling ramai di Thamel

Kathmandu Burger

Selama 10 hari di Nepal, ini adalah makanan yang paling sering Saya beli karena suka bangeeeeeet. Tastiest burger I've ever eaten. Sayang penampakan burgernya lupa difoto. Menu yang selalu Saya beli adalah Kathmandu Special Burger harganya NPR 280, atau sekitar 35 ribu rupiah. Lebih mahal memang dari harga seporsi Dal Bat, tapi worth it dengan tumpukan roti, buff ham, chicken, double chesee, sayur, dan bumbu yang supeeeer enak dan tebal!

Kedai kecil ini bisa ditemukan di kawasan Thamel, tidak terlalu jauh dari jalan besar sejajar dengan store The North Face. Selain rasa, pelayanan kedai ini juga sangat menyenangkan. Ah, jadi pengen ke Nepal lagi untuk sekedar beli burger.


Makanan favorit selama di Nepal

Susu Kerbau (Buff) & Chura

Dalam perjalanan dari Pokkhara menuju Kimche, Saya kelaparan karena belum sempat sarapan. Saat itu Saya minta pada driver taksi untuk mencari tempat makan apapun yang bisa kami temukan. Tidak mudah menemukan tempat makan saat menyusuri kaki gunung yang berkelok tersebut sampai akhirnya kami berhenti di sebuah rumah kecil. Kata driver taksi, rumah tersebut menjual Susu Kerbau murni yang enak sekali rasanya. Namun sepertinya Saya tidak akan menemukan banyak pilihan makanan.

 

So, Saya membeli segelas susu. Mencoba merasakan susu kerbau pertama kalinya dan ternyata rasanya enak meski tanpa gula sekalipun. Karena masih lapar, Saya minta pada penjualnya menyediakan makanan untuk breakfast. Penjual itu memberikan sepiring sayur dan semacam oatmeal yang ternyata flattened rice. Belakangan Saya tahu, nama makanan itu adalah Chura. Kombinasi makanan yang agak aneh rasanya, tapi tetap Saya habiskan demi pendakian. Untuk segelas susu dan Chura harganya NPR 150.

Chura - Vegetable
Susu Kerbau Murni

Buff Sekuwa

Bentuknya seperti sate tanpa bumbu kacang. Menggunakan daging kerbau membuat teksurnya lebih keras. Tapi bumbu sederhana yang meresap rata sampai kedalam membuat rasa Sekuwa ini lezat. Saya membelinya disekitar Phewa Lake, Phokkara pada malam hari yang dingin. Hanya semacam PKL tanpa kedai dipinggir jalan namun suasananya cukup nyaman. Harga 1 tusuk Sekuwa sekitar NPR 40.



Gurung Bread & Masala Tea

Penyuka Roti Maryam atau Roti Canai mungkin akan terkarik untuk mencoba makanan yang satu ini. Menurut Saya, ini lebih seperti pancake dengan adonan mirip kulit pisang goreng. Di ABC, Roti Gurung biasanya disajikan dengan topping madu atau omellete. Tapi karena adonan roti yang agak manis, partner terbaiknya adalah madu dan secangkir teh herbal ala Nepal, Masala Tea. Sejauh perjalanan, Gurung Bread adalah menu yang posrinya paling pas dengan ukuran perut Saya. Tidak terlalu sedikit dan tidak over seperti porsi makanan lainnya.

Foto ini diambil dari inotherpartsoftheworld.com

Sugar Mama Chhomrong - Best Chocolate Cake

Dari keseluruhan rute pendakian ABC, melewati Chhomrong adalah salah satu ujian terberat. Tapi dibalik ribuan tangga yang melelahkan, ada satu harta karun manis yang tersimpan. Herwian, salah satu teman blogger merekomendasikan kue ini untuk dicoba saat pendakian menuju ABC. Menurutnya, ini adalah sweetest temptation selama pendakian.

Bahkan salah satu artikel dalam majalah Times pernah menuliskan : " .. has become a legend for the magnanimous slices of warm, brownie-like chocolate cake she serves weary hikers going up to or coming down from base camp". Harga satu slice cake chocolate sekitar NPR 200. Mahal tapi worth it kok. Ada beberapa toko kue di Chhomrong, namun yang paling enak adalah Sugar Mama di Chhomrong Cottage. Kalian harus coba!


Sugar Mama ada di Cottage ini. Gambar ini diambil dari tripadvisor.

Menu Mevvah selama di Gunung

Berbeda dengan pendakian yang pernah Saya lakukan di Indonesia, selama pendakian di ABC makanan lebih terasa seperti di cafe daripada di gunung. FYI, semakin tinggi, harga makanan semakin mahal. Tapi tenang, porsi makanan sebenarnya sangat besar dan cukup untuk 2 kali makan. Kadang untuk mengakali, Saya membeli makanan yang bisa dibungkus untuk dimakan pada pemberhentian berikutnya.

Diantara semua makanan, yang paling bermanfaat membantu daya tahan adalah Garlic Soup (murah lagi :p). Sedangkan yang paling enaaaak adalah Tuna Pizza yang ditraktir sama Dave (mungkin karena gratis ya). Range harga makanan sekitar NPR 250 - 500 tergantung menunya.







Sebagai penutup, Saya ingin merekomendasikan makanan ringan murahan tapi Saya jamin kalian pasti ketagihan. Dan makanan itu adalaaaah ..... PRAW!




Saya agak menyesal kenapa nggak bawa pulang ke Indonesia. Harganya cuma NPR 20 per bungkus. Keripik kentang renyah dengan bumbu khas kari Nepal yang agak pedas tapi ... ah pokoknya enak!

Oiyaa, ada satu lagi makanan yang berkesan selama perjalanan. Rasanya nggak adil kalau tidak diceritakan. (Ini terakhir, janji)




Adalah sebungkus Nasi Lemak yang dibelikan Bapak dan keluarga Ami di Malaysia. Keluarga yang sama sekali tidak Saya kenal tapi baik hati sekali mau "menampung" saat transit selama 24 jam setelah kembali dari Nepal. Makanan yang bukan cuma rasa masakannya saja yang enak, tapi juga mampu membuat Saya merasakan kebaikan dan ketulusan orang lain :)

PS :

Terima kasih sudah membaca!


You May Also Like

11 comments