Cerita dari Sumbawa : Overview

by - 3:14 AM


Pertengahan tahun 2014 adalah kali pertama Saya menginjakan kaki di Pulau Sumbawa. Menyeberang dari Pulau Lombok, menghabiskan malam menunggu bus yang tak kunjung datang disebuah toko kelontong kecil tepat diseberang terminal bus Sumbawa Besar. Bukan untuk berwisata, hanya numpang lewat saja. Meski cuma sebentar, tapi beberapa jam melintasi Sumbawa hingga sampai di Pelabuhan Sape akan sulit dilupakan. It was my first solo trip experience (cerita lengkapnya disini)

Seorang co-driver bus yang Saya tumpangi waktu itu berpesan "Kapan-kapan harus kembali lagi ke Sumbawa, pergi lihat air terjun dan Gunung Tambora". Saya jawab .. "Pasti, kalau ada kesempatan (meski tidak tahu kapan)".


Pertama kali melintasi Pulau Sumbawa, 2014.
Dua tahun kemudian, Agustus 2016, perjalanan spontan sepulang dari Gurung Rinjani membawa Saya kembali ke Sumbawa. Keberuntungan mempertemukan Saya dengan sebuah keluarga yang amat hangat. Bapak Tio, Mamak, Mas Iwan, dan Denok. Tengah malam Saya datang dengan wajah lusuh kelelahan, menumpang tinggal di rumah orang yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Keluarga ini menerima dan memperlakukan Saya seperti anak sendiri, sampai tidak bisa lagi bersikap sebagai 'tamu'.

Jika malam itu tidak ditawari tinggal di rumah Bapak, maka Saya akan menghabiskan sisa hari di pelaban Poto Tano yang sepi. Saya juga tidak akan pernah tahu sedapnya rasa Dadar Jagung hangat buatan Mamak. Dan, tentu saja Saya tidak akan pernah coba sensasi mandi di kali Semongkat. Haha, sederhana sekali ya.

Tak hanya memberikan Saya kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat yang menakjubkan ditanah kecintaan mereka, namun juga membuat Saya begitu sulit untuk tidak meninggalkan hati disana.


Bersama Bapak Tio, Mamak, Mas Iw, sekeluarga - 2016
Menggenapi janji pada co-driver, pertengahan tahun 2018 ini Saya kembali ke Sumbawa untuk 'pergi lihat Gunung Tambora'. Perjalanan yang sangat menyenangkan bersama blogger panutan Saya, Mbak Ajeng (kapankemana.net), Hilmi (muhiga.wordpress.com), dan Silvia.

Meski tidak pergi sendirian, perjalanan tersebut kembali mempertemukan Saya dengan orang-orang baru. Salah satu yang berkesan adalah perjumpaan dengan Setyo Manggut, peneliti muda asal Jakarta yang kami jumpai di basecamp Tambora. Pemahamannya mengenai Sumbawa membuat kami terkesan. Hasil pendalaman sejarah dan budaya setelah tinggal disana berbulan-bulan diceritakannya agar kami bisa mengenal Sumbawa sedikit lebih dalam. Menarik!


Kami berlima di Pulau Satonda, 2018

Dimana letak Pulau Sumbawa?

Sebelum lanjut bercerita lebih jauh, Saya ingin sedikit menunjukan lokasi Pulau Sumbawa, barangkali masih ada yang bingung membedakan Pulau Sumbawa dan Pulau Sumba. Keduanya sama-sama di Nusa Tenggara tapi lokasinya saling berjauhan. Kalau teman-teman pernah nonton film Marlina atau Pendekar Tongkat Emas, itu di Pulau Sumba (NTT). Sedangkan Pulau Sumbawa terletak di provinsi Nusa Tenggara Barat, salah satu bagian dari Kepulauan Sunda Kecil. Pulau ini bereda diantara Pulau Lombok (NTB) dan Pulau Flores (NTT). Kota terbesarnya adalah Bima yang berada di bagian timur pulau tersebut.

Source : indonesia-tourism.com

Apa yang bisa kita temukan di Pulau Sumbawa?

Dalam dunia pariwisata, eksistensi Pulau Sumbawa mungkin belum sepopuler pulau-pulau lain disekitarnya namun potensi alam yang dimiliki pasti akan membuat kita terpesona.  Pulau Kenawa, Pulau Moyo, Pulau Satonda, Gunung Tambora cobalah googling nama-nama tersebut. Sebagian dari destinasi wisata yang Saya sebutkan itu rasanya hanya akan menggambarkan secuplik dari luasnya keindahan di Pulau Sumbawa.

Budaya masyarakat Sumbawa yang unik juga memiliki daya tarik. Meski tinggal diatas satu pulau yang sama, namun masyarakat Sumbawa punya karakter dan ciri khas budaya yang beragam. Manifestasi ragam budaya tersebut bisa kita saksikan melalui bangunan, atraksi, seni, dan berbagai aktivitas masyarakat lainnya.

Selain destinasi wisata dan budaya, tiga hal lainnya yang paling terkenal dari Sumbawa adalah Kuda, Madu, dan Kopi. 


Bagaimana cara menuju Pulau Sumbawa?

Banyak moda transportasi yang dapat digunakan untuk sampai ke Pulau Sumbawa. Beberapa yang sudah pernah Saya coba adalah :
  • Bus : Merupakan alternatif transportasi yang termudah dan termurah namun membutuhkan kesabaran karena waktu tempuh yang cukup lama, sekitar 30 jam (*nangis). Dari Surabaya menuju ke Bima bisa dengan mudah dipesan diterminal Purabaya (Bungurasih). Harga tiket sekitar Rp 600.000, nama PO Tiara Mas (ada juga alternatif lainya). Menurut pengalaman, Bus ini akan melewati Sumbawa Besar, jadi jika tujuan kita tidak sampai ke Bima harga bisa lebih murah. Tetapi, jika tujuan kita lebih jauh dari Bima (misalnya : Dompu, Sape, atau lanjut ke Flores) maka kita harus ganti dan melanjutkan perjalanan dengan bus yang lebih kecil. Tarif bus Bima - Sape mulai dari Rp 25.000, sedangkan Bima - Dompu mulai Rp 70.000 (sampai ke desa Pancasila, gerbang pendakian Gunung Tambora).
  • Kapal Ferry : Jika lokasi keberangkatan lebih dekat, misalnya dari Lombok, kita bisa sampai di Pulau Sumbawa dengan naik kapal. Saya pernah coba naik kapal dari Pelabuhan Kayangan (Pulau Lombok) menuju ke Pelabuhan Poto Tano (Pulau Sumbawa). Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 2 jam dengan tarif Rp 20.000 (jika belum berubah). Sekitar 6 kali naik, kapalnya selalu bersih dan nyaman. Informasi selengkapnya bisa kalian dapatkan di website ASDP berikut : www.indonesiaferry.co.id 
  • Pesawat : Apabila waktu kita terbatas, maka pesawat adalah pilihan transportasi yang sangat tepat. Tidak ada direct flight dari Surabaya ataupun Jakarta ke Sumbawa sehingga kita harus transit via Lombok atau Bali. Ada 2 bandara di Pulau Sumbawa, letaknya di Sumbawa Besar (SWQ) dan di Bima (BMU). Pastikan bandara yang dipilih lokasinya lebih dekat dengan destinasi tujuan. Estimasi harga tiket dari Lombok ke SWQ/BMU mulai sekitar Rp 300.000 (sesuai pengalaman).
  • Sewa Kendaraan : Ketiga pilihan diatas mungkin kurang nyaman untuk bepergian bersama rombongan atau keluarga, maka kita bisa juga menyewa kendaraan pribadi lengkap dengan pengendaranya. Saya pernah menggunakan jasa sewa kendaraan dengan harga dan pelayanan yang baik, berikut kontaknya : Mulya Rentcar.
Salah satu maskapai yang menyediakan rute Lombok - Sumbawa

Akomodasi di Pulau Sumbawa?

Sejauh perjalanan ke Pulau Sumbawa, Saya belum pernah menginap di hotel. Saya pernah bermalam di warung pinggir terminal (parah), menginap di rumah penduduk lokal (Bapak Tio), dan satu-satunya penginapan berbayar yang pernah Saya singgahi hanyalah basecamp Tambora (akan saya ceritakan pada part berikutnya). Namun tenang saja, banyak hotel maupun penginapan yang backpacker-friendly disana.

Waktu terbaik berkunjung ke Pulau Sumbawa

Sumbawa memiliki banyak savana, pulau cantik, pantai, serta gunung. Saya pribadi lebih suka menikmati itu semua pada musim panas, sekitar bulan Juni hingga September. Ada juga yang lebih suka mengunjungi pulau ini sesaat setelah musim hujan berakhir karena padang savana dan beberapa bukitnya terlihat lebih hijau. Namun, saran bagi pendaki yang bertujuan ke Gurung Tambora, sebaiknya hindari pendakian saat musim hujan demi keamanan dan kenyamanan.

Amankah pergi sendirian ke Sumbawa?

Berdasarkan pengalaman Saya, Sumbawa cukup aman bagi solo-traveller. Namun, mempelajari dan mempersiapkan diri terhadap segala sesuatu yang akan kita hadapi merupakan upaya terbaik yang bisa dilakukan sebelum bepergian. Pesan Bapak Tio, "... dimanapun di dunia ini akan semakin jahat. Bukan berarti harus takut, tetapi harus lebih waspada kemanapun kita melangkah .."

Begitulah kira-kira :)


Masih ada banyak cerita dari Barat Nusa Tenggara yang ingin Saya bagikan. Tentang Pulau-pulau yang rasanya seperti milik sendiri, juga tentang gagahnya Gunung Tambora yang letusannya berdampak pada sejarah dunia. Tunggu bagian berikutnya ya!

Terima kasih sudah membaca 

You May Also Like

0 comments