Sendirian di Nepal (Part 3) : City Tour ala Doctor Strange

by - 8:25 AM


Bercerita tentang Nepal, tidak akan berhenti pada Himalaya dan alamnya yang super impressive saja, namun juga budaya yang epic. Tidak banyak tempat yang bisa Saya kunjungi. Ini hanyalah bonus yang bisa Saya sempat-sempatkan dari serangkaian jadwal super padat (juga anggaran yang ketat).

Bagi pecinta Marvel, cerita Saya ini akan mengingatkan kalian dengan latar film Doctor Strange yang dimainkan idola Saya, Benedict Cumberbatch (tapi baru nonton filmnya justru setelah pulang dari Nepal :p).


Pashupatinath


Ditepi sungai Bagmati, kematian dihantarkan dengan doa dan puji-pujian bagi para Dewa. Saya masih ingat sepenggal liriknya. "Om Nahma Shivaya" ... lalu bernyanyi lagi "Om jai jaadish hare". Lantunan nyanyian merdu itu menyatakan pujaan, segala keagungan bagi Sang Pencipta jagad raya.
 
Adalah sebuah cara pemujaan yang indah. Tarian, nyanyian, dan musik mengalun mendayu-dayu berpadu dengan api serta dupa menyala. Saya terpana. Saya hampir lupa, tepat diseberang tempat Saya berdiri, ada puluhan jenazah yang sedang dalam proses kremasi. Dalam panasnya api, tubuh luruh menjadi abu, dan jiwa kembali ke Nirwana.








Datang kemari dimalam hari adalah ide teman Saya, Ram Chandra, seorang penduduk lokal. Pemuda yang sangat taat sembahyang ini mengajak Saya menyaksikan proses ibadahnya. Saya sangat tertarik. Berkendara dengan motor bersama Ram, kami pergi ke Pashupatinath, kurang lebih 30 menit jauhnya dari Thammel. We'll see the life, beside the death. Saya masih ingat kalimat Ram yang membuat Saya sangat penasaran menerka-nerka hal yang akan Saya saksikan.

Kami tiba ditepi sungai Bagmati. Dari tempat berhenti, terlihat kepulan asap membumbung ke langit, aroma pembakaran tercium sangat jelas. Meski memasuki tempat yang erat kaitannya dengan kematian, namun segala ketakutan akan sirna dengan bangunan megah yang sangat gagah. Pashupatinath dikenal sebagai salah satu situs Hindu terbesr di dunia. Sebagian dari bangunan megah itu merupakan area yang sakral, tidak semua orang diperbolehkan memasukinya. Area sakral itu adalah tempat suci dimana umat Hindu khusuk bercengkerama dengan Penciptanya.









Sesekali Saya mengarahkan pandangan ke seberang. Pernah Saya membaca cerita mengenai tempat ini saat terjadi gempa bumi yang dahsyat beberapa tahun lalu. Pashupatinath adalah tempat seluruh jenazah korban gempa dikumpulkan. Saya tidak bisa membayangkan seperti apa situasinya saat ribuan manusia tak bernyawa memenuhi tempat ini untuk upacara pembakaran jenazah. Duka cita yang dalam dan airmata tumpah diseluruh penjuru negeri ini. Saat ini, mereka terus berusaha bangkit dari keterpurukan itu.

Saya menikmati setiap jengkal peristiwa yang Saya saksikan. Menikmati berdiri diantara umat Hindu yang bersembahyang dengan cara yang indah. Setiap manusia punya cara yang berbeda untuk berkomunikasi dengan Tuhan sesuai kepercayaan. Saya menghormati cara mereka.










Jika pergi kesini sebelum petang, kalian akan sangat senang karena bisa bertemu dengan para Baba (seperti foto yang tersedia di Google). Saya tidak menjumpainya dimalam hari. Sebagai gantinya, Saya bisa menyaksikan bagaimana umat Hindu di Nepal beribadah, bagaimana upacara kematian mengantarkan jiwa ke Nirwana, bermain dengan anjing, serta menikmati suasana tempat ini tanpa keramaian turis tentunya. Harga tiket masuk untuk turis sekitar 1.000 NPR tapi karena datang bersama Ram, Saya tidak membayar apa-apa.


 
Bangunan ini merupakan tempat suci bagi umat Hindu, tidak semua orang boleh masuk kedalamnya.

 Bhaktapur Durbar Square

Seusai pendakian, Saya masih memiliki satu hari tersisa untuk menikmati me time di Nepal. Saya memilih pergi ke Bhaktapur, sebuah kota kerajaan yang terletak di kawasan lembah Kathmandu. Dari penginapan di Thammel, Saya jalan kaki menuju Ratna Park Bus Station dan menumpang bus lokal seharga NPR 25 menuju ke Bhaktapur. Dalam bus yang penuh sesak macam metromini, Saya duduk bersama seorang gadis lokal yang memberi tahu dimana Saya harus turun. Well, gadis itu adalah keberuntungan Saya berikutnya.

Saya turun bersama gadis lokal tersebut. Setelah menunjuk arah masuk, dia pergi ke arah yang berbeda. Tidak tahu pasti dimana Saya berhenti saat itu, karena tidak ada gate atau petunjuk seperti di google. Agak ragu, tapi terus saja Saya berjalan dengan hanya mengandalkan informasi dari gadis tadi. Mengikuti arah yang ditunjukkannya sampai menemukan barisan pedagang souvenir dikanan kiri jalan, Saya merasa hampir sampai ketempat tujuan.

Lima menit berjalan, Saya kaget tiba-tiba sudah sampai dipusat Bhaktapur Durbar Square. Rupanya jalan yang ditunjukkan adalah jalanan perkampungan yang langsung menembus tanpa melewati entrance gate. Bahkan Saya baru menemukan pintu masuk saat pulang. Berkat petunjuk gadis itu Saya masuk tanpa harus membeli tiket turis segarga NPR 1.000. Lumayan yah!

My first impression to this place was .. I really like it.


Sebagai sebuah kota kerajaan, kawasan Bhaktapur ini cukup luas dikelilingi kuil, bangunan, dan tempat tinggal yang sangat artsy bernuansa merah bata. Beberapa bangunan tidak utuh, rusak akibat gempa. Dari bangunan yang rusak itu, kita bisa membayangkan betapa mengerikan kondisi yang dihadapi penduduk Nepal saat itu dan bagaimana mereka survive berjuang memperbaikinya sampai kini.

Jika kalian menyukai sejarah dan budaya, jangan pernah lewatkan tempat ini saat berkunjung ke Nepal. Bhaktapur pernah menjadi ibu kota Nepal pada abad 12 - 15. Kota kuno ini banyak diisi dengan monumen, candi, terra-cotta, tiang-tiang berukir, atap berlapis emas, serta halaman terbuka. Pada jaman dahulu, tempat ini adalah istana yang dipenuhi dengan pagoda dan kuil-kuil agama. Kekayaan unsur budaya di dalamnya telah diakui oleh UNESCO. Suasana iconic inilah yang mungkin membuat film Doctor Strange banyak mengambil latar ditempat ini. Btw, kalau teman-teman tertarik baca sejarahnya coba klik disini.





 




Berbeda dengan pusat kota Kathmandu dan Pokhara yang sangat sibuk, disini Saya bisa menikmati suasana yang lebih tenang. Atmosphere yang sangat menyenangkan. Saya betah disana. Ngobrol tentang sejarah Nepal dengan orang-orang lokal, duduk-duduk menikmati suasana kota sambil menyaksikan khusuknya umat beribadah. Selain culture, disana menurut Saya juga merupakan pusat artwork. Saya mampir ke setiap galeri seni juga handy craft sampai lupa waktu. Setiap sudut kawasan ini tidak pernah membosankan.









Swayambhunath

Kuil suci ini juga dikenal sebagai Monkey Temple. Lokasinya tidak jauh dari Thammel, sekitar 15 menit ditempuh dengan taksi. Meski dikatakan terletak di kawasan lembah Kathmandu, namun sebenarnya lokasi Swayambhunath ini cukup tinggi. Untuk mencapai stupa, kita harus melewati ratusam anak tangga yang cukup melelahkan. Kurang lebih setinggi tangga di kawah Bromo. Nggak masalah dong bagi kalian yang sudah teruji melewati tangga Chommrong. Harga tiket masuknya NPR 200.




Sesuai namannya, disini kita akan bertemu dengan banyak monyet. Hmm.. I don't like monkey actually. Untungnya mereka tidak seagresif monyet di Uluwatu atau di Baluran. Bagi masyarakat Nepal, monyet dianggap suci dan bebas menghuni setiap sudut kuil yang merupakan situs warisan dunia UNESCO itu.

Sekilas bentuk bangunan Swayambhunath terlihat mirip dengan Boudhanath dengan skala yang lebih kecil (yang ada di film Doctor Strange itu Boudhanath). Keduanya memiliki bentuk kubah yang besar dengan pagoda berlapis emas sebagai puncaknya. Pada setiap sisi pagoda terdapat ukiran mata dewa yang seakan-akan memperhatikan seluruh penjuru kota.



 

Menurut cerita, kemunculan kuil Swayambhunath pada sekitar abad kelima ini masih menjadi misteri. Sesuai namanya, Swayambhu yang dalam bahasa Nepal artinya muncul sendiri. Sampai sekarang, kuil ini terus digunakan untuk pemujaan. Setiap hari sejak matahari belum terbit hingga datangnya malam, umat datang dengan lilin dan dupa untuk memuja dewa.

Dari Swayambhunath Saya bisa menyaksikan pemandangan kota Kathmandu. Ditemani suasana senja, semilir udara yang sejuk, dan alunan lagu-lagu Nepal, menjadi farewell yang pas untuk menikmati Nepal sebelum kembali pulang.


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Titik Nol (35): Mata Buddha", https://travel.kompas.com/read/2008/09/19/07440426/Titik.Nol.35.Mata.Buddha.


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Titik Nol (35): Mata Buddha", https://travel.kompas.com/read/2008/09/19/07440426/Titik.Nol.35.Mata.Buddha.




Dhaniavaad, Nepal.

Itu bukan nama tempat, melainkan bahasa Nepal yang artinya terima kasih. Negara pertama yang Saya kunjungi ini begitu mesmerizing. Alamnya, budaya, masyarakat, makanan, semuanya membuat Saya jatuh hati. Sepakat dengan Bu Raiyani dalam blognya, mengunjungi Nepal sekali tak akan cukup.

Meski tidak ada negara yang sempurna, seorang teman pernah berpesan "Nepal akan memperlakukanmu seperti saudara jauh yang baru pulang kampung. Ia akan menjamu dengan segala yang dimilikinya dan memastikan kamu pulang dengan perasaan yang sangat senang karena telah diperlakukan dengan ramah dan pesona yang indah. Kamu pasti ingin datang lagi".

Once again, pergi ke Nepal adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidup Saya. Bagi teman-teman yang ingin mencoba travelling  ke luar negeri untuk pertama kalinya, negara ini adalah pilihan yang tepat. Ini buktinya :




View kota Kathmandu pagi hari
  
Bendera warna-warni berisi doa-doa




Phokkara
Phewa Lake

See you when I see you, Nepal.

You May Also Like

1 comments

  1. luar biasa..keren abiz..so inspiring.. smoga bisa kesampaian juga ke nepal tahun depan..salam

    ReplyDelete