Sendirian di Nepal (Part 2) : Annapurna Base Camp - No Porter, No Guide

by - 1:29 AM


Namaste!

Sebuah sapaan yang akan sangat sering diucapkan saat kita berada di Nepal. Dulu Saya pikir itu hanya sebatas hi, atau have a nice day. Namun ternyata Namaste memiliki arti yang bagus dan lebih dalam :
 
"My soul honors your soul. I honor the place in you where the entire Universe resides.  I honor the light, love, truth, beauty and peace within you, because it is also within me. In sharing these things we are united, we are the same, we are one."


Btw, cerita perjalanan ke Nepal ini akan cukup panjang, so fasten your seatbelt and let's start the journey.

***********

Berangkat ke Nepal sendirian, meski dengan bekal persiapan dan keberanian seadanya, mungkin termasuk keputusan terbaik yang pernah Saya buat. Perjalanan yang tidak akan pernah disesali karena Saya telah "membeli" pengalaman mahal yang membuat Saya banyak belajar dan semakin mengenal diri Saya sendiri *tsaaah.

Perjalanan tidak selalu menyenangkan, kadang unpredictable. Saya nggak akan pernah lupa gimana rasanya nyasar malam-malam dan nyaris beku diketinggian lebih dari 4.000 mdpl saat mendaki Annapurna Base Camp (ABC). Tanpa guide, tanpa porter, tanpa siapapun.

Annapurna adalah salah satu 'anggota' deretan pegunungan Himalaya. Menurut beberapa referensi, gunung ini the tenth highest and most dangerous mountain in the world. Puncak tertingginya 8.091 mdpl, tapi Saya cuma sampai puncak ABC saja kok atau setinggi 4.310 mdpl. Sejauh ini, ABC jadi puncak tertinggi (dan terdingin) yang pernah saya injak. Lebih tinggi dari Rinjani (bahkan Kerinci) dan hampir menyamai Cartenz di Papua.

Pemandangan Himalaya dari pesawat

Pre Trekking : Surabaya - Kuala Lumpur - Kathmandu, Nepal

Perjalanan ke Annapurna Base Camp ini cukup panjang, butuh effort, dan biaya yang lumayan (cek rinciannya disini). Diawali dengan flight dini hari dari Surabaya - Kuala Lumpur sekitar 2,5 jam. Tidak ada penerbangan direct dari Indonesia ke Nepal sehingga harus transit sekitar 3 jam, lalu lanjut penerbangan Kuala Lumpur - Kathmandu, Nepal sekitar 4,5 jam. Kalau bisa memilih, duduklah dibangku dekat jendela disebelah kanan. Sekitar 30 menit sebelum landing, kita bisa menikmati indahnya Sagarmatha, atau yang lebih dikenal dengan Everest.
Setelah penerbangan panjang, sekitar jam setengah 3 sore Saya sampai di Tribhuvan International Airport, Kathmandu. Jangan buru-buru senang saat sampai, karena ada sederet to do list yang harus diselesaikan agar perjalanan 10 hari kedepan bebas hambatan, yaitu :

Urus Visa on Arrival : Tinggal antri, isi form di mesin, lalu bayar 25 USD untuk 15 hari. Setelah itu tinggal pemeriksaan imigrasi saja.
Tukar Uang : Sebenarnya kalau punya ATM berlogo visa ini tidak perlu dilakukan, toh kursnya masih lebih bagus saat kita tarik tunai lewat ATM. Tapi, boleh saja jika ingin tukar seperlunya. Berdasarkan pengalaman, best deal tukar uang ada di Pokhara.
Beli Kartu Telepon : Ini juga conditional tergantung kebutuhan. Saya beli kartu seharga 600 NPR, paket data 2,5 GB untuk 30 hari yang sangat bisa diandalkan untuk cari info jalan atau booking hotel.
Urus Permit :  Ijin pendakian ada 2 macam, TIMS dan ACAP  dapat diurus di tourism center Kathmandu atau Pokkhara, buka jam 9 - 5 sore. Kalau sempat, better mengurus di Kathmandu saja.
Beres mengurus itu semua, Saya menuju hotel di kawasan Thamel untuk istirahat dan prepare perjalanan berikutnya.




Semudah ini urus visa-nya

Tourist Service Center Kathmandu, tempat mengurus ACAP dan TIMS
Ini dia permit-nya!

Pre Trekking : Kathmandu - Pokkhara

Matahari di Nepal baru muncul sekitar jam 6.30 pagi, padahal Saya bangun sejak jam 5 menunggu diatas rooftop besama dinginnya udara subuh. Saat itu kira-kira suhunya 2-3 derajat celcius. Aktivitas terlihat lebih sibuk saat matahari mulai tinggi. Check list Saya hari ini adalah lanjut mengurus ACAP yang belum selesai lalu melanjutkan perjalanan menuju Pokkhara.

Perjalanan ke Pokkhara selama 10 jam (normalnya hanya 7 jam tanpa macet) Saya lalui bersama dengan 2 orang fotografer Indonesia asli Jogja. Secara tidak sengaja kami bertemu di Tourism Service Center dan kebetulan tujuannya sama-sama ke Pokkhara. Kami menyewa mobil dan berbagi cost. Meskipun pricey, tapi setidaknya itu adalah pilihan yang nyaman untuk perjalanan yang penuh jalan rusak dan kemacetan.








Perjalanan dari Kathmandu ke Pokkhara
Tiba Pokkhara hari sudah gelap. Saya menginap di salah satu hotel yang sangat dekat dengan Phewa Lake. Sisa hari itu Saya gunakan untuk persiapan pendakian, sewa perlengkapan mendaki (yang sebenarnya lebih murah sewa di Kathmandu), serta booking taksi untuk melanjutkan perjalanan panjang esok hari.
Source : herwian.wordpress.com
Overview diatas menjadi patokan estimasi perjalanan, namun realitanya Saya berangkat dari jalur berbeda yang lebih cepat.
 

Day 1 : Pokkhara - Kimche - Rhome

Dari Pokkhara kita masih harus menempuh perjalanan 2 jam menuju Nayapool. Itu jika kalau kita pergi dengan taksi, kalau menggunakan bis bersabarlah untuk perjalanan hingga dua kali lipat lebih lama. Perjalanan dari Nayapool ke Kimche berupa jalanan umum yang dilewati kendaraan, bahkan bus. Banyak pendaki yang mulai jalan kaki dari Nayapool, tapi saran Saya, untuk menghemat tenaga dan waktu gunakan taksi untuk menuju Kimche, perjalanan sekitar 1 jam.

Perbaikan disepanjang jalan membuat perjalan Saya terhambat. Padahal sekitar jam 8 pagi saya sudah berangkat. Driver taksi pun sudah menyetir seperti game crazy taxi, tapi kami baru tiba di Kimche jam 1 siang. Sebelum sampai ke Kimche ada loket pemeriksaan permit, setelah mendapatkan stempel, kita boleh melanjutkan perjalanan.

TIPS :

Time management sangat penting untuk diperhatikan. Selama pendakian, Saya menetapkan target untuk berjalan rata-rata 7 jam perhari melewati 2-4 desa. Agar terhindar dari Altitude Mountain Sickness (AMS) sebaiknya berjalan tidak terlalu cepat, tidak terlalu pelan. Lagipula, perjalanan panjang itu menawarkan pemandangan yang luar biasa. Sayang jika kita terlalu terburu-buru.




 


Saya akui, manajemen waktu Saya buruk dihari pertama.Kendala diperjalanan membuat Saya telat memulai pendakian. Sekitar pukul 1 siang baru mulai jalan dan sempat berhenti cukup lama untuk makan siang. Dalam kondisi seperti itu, Saya masih nekat ingin menyelesaikan target 5 desa dihari pertama. Sounds crazy! Berikut rangkumannya :
Kimche - Ghandruk : Sebuah pemanasan yang smooth. Medannya cukup terbuka dan landai. Sekitar 90 menit berjalan, Saya sampai di Gandhruk. Saya berhenti untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan kembali.

Ghandruk - Khomrong Ganda : Selepas kawasan pemukiman, Saya mulai sedikit memasuki hutan. Tidak lama kemudian, Saya kembali berjalan dikawasan pemukiman. Saya berusaha berjalan cepat agar bisa sampai sebelum gelap mumpung trek tidak sulit.
 


 


Khomrong Ganda - Khomrong Khola : Ujian perjalanan hari pertama bermula disini. Setelah dimanjakan dengan view menawan, rute perjalanan berbelok menuju hutan. Turunan panjaaaaang seperti tidak berujung Saya lalui. Jarang sekali ada orang yang berpapasan selama perjalanan, mungkin karena hari sudah mulai gelap. Meski panjang, tapi Saya bisa berjalan cepat karena hampir tidak ada tajakan sama sekali. Tapi Saya curiga, kemudahan ini harus dibayar mahal dirute berikutnya.

Hampir tersesat

Khomrong Khola - Rhome : Saat menemukan desa ditepi sungai yang sangat besar, itu merupakan desa Khomrong Khola. Melihat waktu sudah hampir jam 6 sore, seharusnya Saya berhenti dan bermalam disana saja. Saya malah lanjut berjalan dengan tujuan ke Chhomrong. Kecurigaan Saya terbukti. Turunan panjang kini dibalas tanjakan tanpa ampun. Dalam keadaan jalan yang gelap dan tidak ada satupun orang yang lewat, Saya berjalan sendirian berharap segera sampai. 

Hampir dua jam berjalan, sama sekali belum terlihat tanda kehidupan pemukiman. Sinyalpun tidak ada. Saya benar-benar hanya mengadalkan jejak kaki samar-samar yang belum tentu arahnya benar. Hari semakin malam, udara semakin dingin, dan Saya lapar. Sempat terlihat cahaya lampu dari kejauhan, Saya pede cahaya itu dari desa Chhomrong. Saya berusaha berjalan mendekati tempat cahaya itu. Sampai disebuah simpangan, Saya memilih jalan yang salah. Saya merasa tersesat saat mendengar suara arus sungai yang semakin kencang dan menyadari cahaya tadi semakin jauh. 

Saya kembali menelusuri jalan sampai ke persimpangan tadi dan lanjut berjalan ke arah sebaliknya. Bersyukur sepuluh menit kemudian akhirnya Saya menemukan beberapa rumah, sumber cahaya itu. Sebuah keluarga menyapa Saya dengan ramah. Mereka bilang desa itu bernama Rhome, 30 menit sebelum Chhomrong. Mereka menawari Saya untuk menginap, karena hari sudah gelap. Saya tidak ingin berjalan lagi, Saya terima tawaran menginap dirumah keluarga baik hati malam itu.



 


Day 2 : Rhome - Chhomrong - Dovan

Secangkir susu kerbau buatan mama (keluarga Rhome) membangunkan Saya pagi itu. Saya masih jetlag setelah semalam hampir nyasar. Mama bilang sungai yang Saya dengar kemarin itu jurang, Saya jadi deg-degan. Puji Tuhan masih dilindungi. Setelah beres-beres, Saya pamit untuk melanjutkan perjalanan. Hari ini akan ada 4 desa yang harus Saya lewati. Keluar dari rumah Mama, Saya langsung takjub melihat pemandangan macam kalender secara langsung pakai mata sendiri. Sambil jalan Saya cengar-cengir terus saking senangnya.





Rhome - Chhomrong : Dengan semangat dan tenaga yang masih full, perjalanan 30 menit terasa sangat cepat dan lancar. Medannya aman, cenderung landai atau sedikit menurun.  Saya sempat menjumpai gedung sekolah diatas gunung. Impressive. Tiba di Chhomrong Saya langsung mencari toko kue incaran : Sugar Mama. Saya berhenti sebentar untuk breakfast.
Chhomrong - Shinuwa : Pos pemeriksaan permit yang kedua berlokasi disamping toko roti Sugar Mama. Saat berangkat dan kembali, kita wajib singgah untuk melapor. Penderitaan selanjutnya akan dimulai pada rute ini. Awalnya sih enak, ratusan anak tangga turunan yang tidak terlalu melelahkan. Apalagi matahari masih belum begitu terik.

Belajar dari rute kemarin, bahwa setiap turunan adalah tanjakan yang tertunda. Itulah yang terjadi setelah melewati jembatan. Ribuan anak tangga berjajar rapi, dari jauh terlihat panjang sekali. It was the worst part. Pas lagi break, sepasang kakek nenek penduduk lokal lewat dan coba mengajak bicara. Mereka bisa jalan lebih cepat padahal mungkin usianya sudah 80an. Bahkan si Kakek sempat lho menawarkan banntuan untuk membawa carrier Saya. Duh, Saya maluuuuu.
 

 


Shinuwa - Bamboo : Sampai di Shinuwa, Saya makan lagi. Rupanya barisan anak tangga tadi benar-benar menguras habis tenaga Saya. Kali ini Saya harus lebih disiplin dengan waktu. Saya tidak mau mengulang pengalaman tersesat lagi. Setelah 40 menit break, Saya mulai jalan lagi. Waktunya say goodbye pada tangga karena rutenya kembali masuk ke hutan. Yess!
Bamboo - Dovan : Saya merasa rute perjalanan dari Shinuwa sampai ke Dovan adalah rute yang paling mudah. Yang pasti tidak ada tangga yang menyiksa. Medannya lebih kearah hutan, beberapa kali melewati sungai kecil. Jalannya kadang berbatu namun sangat teduh. Selepas keluar dari hutan, kita akan menjumpai desa bernama Dovan. Tidak terasa Saya sampai lebih cepat dari perkiraan. Saya memilih penginapan yang cukup nyaman disini, juga memiliki sisa waktu yang sangat cukup untuk recovery.




Kamar saya di Dovan, NPR 200
Kamar mandi yang cukup bersih. Untuk hot shower harus membayar NPR 150

Day 3 : Dovan - Machhapuchhre Base Camp (MBC)

Suhu udara di Dovan terasa jauh lebih dingin. Saya kesulitan tidur nyenyak meskipun baju sudah lapis tiga plus pakai sleeping bag. Semalaman berusaha tidur sambil berharap matahari segera terbit. ABC semakin dekat, Saya harus lebih semangat. Sudah sejauh ini. 

Sejujurnya pada tahap ini Saya mulai kehilangan tenaga. Penyebab utamanya suhu yang luar biasa memasuki musim dingin. Biasanya dikantor, dengan suhu AC sekitar 18 derajat saja Saya selalu pakai jaket. Nah, selama di Nepal suhu hampir selalu minus, terutama saat malam hari.

Dovan - Himalaya : Secara umum, medan yang Saya hadapi pagi ini relatif aman. Hampir sama dengan rute Shinuwa - Dovan kemarin, melewati hutan. Namun disana, saat pagi sinar matahari terhalang oleh bukit yang tinggi. Saya harus sabar menghadapi suhu yang masih minus, padahal sudah hampir jam 10 pagi. Saya berusaha terus bergerak dan hanya berhenti jika sudah sampai agar badan tetap hangat.
Himalaya - Deurali : Sesaat setelah sampai di Himalaya, sinar matahari mulai muncul. Suhu terasa lebih hangat dan Saya merasa jauh lebih baik. Medan perjalanan Himalaya ke Deurali ternyata cukup menantang. Melewati tanah berbatu yang kering dan terjal. Terkadang sangat menanjak, kemudian turun. Suhu yang semula dingin secara drastis berubah menjadi sangat hangat. Fisik Saya perlu waktu untuk penyesuaian.

  


 





Deurali - Machhapuchhre Base Camp (MBC) : Saya mengambil waktu untuk istirahat di Deurali. Makan sebanyak mungkin dan minum yang hangat. Saya sempat ragu untuk melanjutkan perjalanan sampai ke MBC karena merasa kurang fit. Tapi saat itu hari masih sangat terang. Kalaupun waktu itu Saya terlalu cepat berhenti dan tidur, resikonya Saya akan mengalami AMS.

Suasana di ruang makan MBC

Saya putuskan untuk lanjut jalan pelan-pelan sambil menikmati view yang luar biasa. Syukurlah pemandangan idah itu secara tidak langsung memotivasi Saya untuk segera sampai di MBC. Dengan tempo yang jauh lebih lambat dari biasanya, Saya akhirnya sampai di MBC disambut panorama menjelang sunset.

Kondisi fisik Saya sore itu sudah terasa sangat membaik. Setelah makan dan ngobrol dengan pendaki lain, Saya segera mencoba istirahat. Malam itu Saya tidur menggunakan 4 lapis baju, 2 lapis kaos kaki dan kaos tangan, serta sleeping bag. Separah itu suhu MBC di malam hari. Thank's God, Saya bisa tidur dengan cukup nyenyak meksi tetap kedinginan.

Day 4 : MBC - Annapurna Base Camp (ABC) - Bamboo

Sekitar jam 4 dini hari, Saya bangun dan bersiap jalan lagi. Akhirnya hari yang paling Saya tunggu setelah melintasi perjalanan panjang datang juga. Super excited! Tidak sabar untuk segera bertemu tujuan Saya, The Great Annapurna Base Camp.


MBC - ABC : Tapi ........... perasaan itu seketika terbang ditiup angin saat Saya keluar dari kamar penginapan. Brrrrrr... dingiiiiiin. Menggunakan baju 6 layers, suhu minus 18 derajat masih mampu menembus sampai ke kulit. Saya nggak yakin bisa berjalan terus sampai ke ABC. Benar-benar 90 menit paling sulit yang pernah Saya alami.

Beruntung dalam perjalanan Saya ditemani Dave, pendaki asal US. Beberapa kali hampir give up, tapi nggak jadi karena termotivasi oleh Dave yang nggak berhenti cerita tentang pemandangan sunrise diatas sana. Saat mendaki dalam suhu ekstrim begini, berhenti bukanlah ide yang bagus. Lebih baik terus pasksa diri untuk bergerak, karena sekali berhenti kita akan merasa lebih buruk dan berat saat diterpa angin. Another bad news, Saya nggak bisa minum selama jalan karena air yang Saya bawa beku jadi es. Bisa bayangin kan betapa dinginnya pagi itu?



Begitu langit mulai terang dan matahari muncul, perkataan Dave jadi nyata. Semangat yang mulai beku jadi cair, luluh menyaksikan kemegahan didepan mata. I got goosebump, kagum ciptaan Tuhan kereeeeeeen banget! Bahkan masih bisa merinding pas nulis ini. Words can't describe how happy I was.

Sampai di ABC, Dave memberi Saya hadiah karena tidak menyerah. Secangkir Hot Chocolate, reward terbaik untuk menghangatkan badan yang rasanya sudah seperti es batu.

Ternyata ini yang membuat carrier Saya berat. Saya bawa sekeluarga didalam tas .. *krik krik.
ABC - Bamboo : Merasa cukup puas dengan ABC, sekitar jam 11 siang Saya mulai turun. Setelah meraih tujuan, perjalanan berikutnya terasa lebih mudah. Hehe, sombong. Rutenya hanya kebalikan dari rute kemarin. Jika untuk naik butuh waktu sekitar 7-8 jam, turun hanya membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Saya bisa lebih cepat tiba di Bamboo sebelum matahari tenggelam. Setelah melewati pendakian yang berat tadi pagi, Saya pasti akan tidur nyenyak malam ini.

TIPS :

Menghadapi udara dingin memang tidak mudah bagi sebagian orang. Indonesia yang mayoritas beriklim tropis membuat kita tidak terbiasa dengan udara dingin apalagi sampai suhu minus. Agar tubuh kita dapat menyesuaikan dengan suhu tersebut, pakai lapisan pakaian secara bertahap. Contoh, pada hari pertama di Saya memakai 3 layer pakaian, 4 layer dihari berikutnya, dan 6 layer pada daerah yang paling tinggi atau paling dingin. Ada lagi. Jangan lupa bawa Tolak Angin, lebih bagus lagi kalau diseduh dengan air panas.


Day 5 : Bamboo - Jhinnu

Mempersingkat cerita, hari kelima tinggal melanjutkan perjalanan turun saja. Mengulangi rute yang sama dari Bamboo sampai ke Chhomrong, stop disana untuk makan siang. Dari Chhomrong Saya berniat melanjutkan sampai ke Siwai. Sebenarnya sih bisa, kalau nggak tergoda untuk berendam air panas alami di Jhinu Danda.





Dari Chhomrong ke Jhinu kita akan kembali melewati barisan anak tangga, untung nggak nanjak. Pejalanan dari sini sudah tidak melewati jalan yang sama seperti kemarin. Jhinu terletak diantara Chhomrong dan Siwai. Desa ini terkenal dengan natural hot spring-nya yang terletak ditepi sungai. Kalau masih ada waktu, tidak ada salahnya coba berendam agar tubuh dan pikiran kita rileks.

Penginapan di Jhinu


Natural hot spring Jhinu Danda. Fotonya jelek, pakai kamera HP

 Day 6 : Jhinnu - Siwai - Pokkhara

Hari terakhir pendakian rasanya bingung harus senang atau sedih. Senang karena 'penderitaan' akan segera berakhir, dan sedih karena artinya liburan pun akan segera selesai. Saya sengaja makan pagi lebih lama sambil menikmati Jhinu sebelum lanjut perjalanan keluar dari kawasan ABC ini. Berjalan santai selama kurang lebih tiga jam, melewati New Bridge hingga akhirnya tiba ditempat pemberhentian bus Siwai. Pendakian Saya selesai di Siwai saat matahari berada tinggi diatas kepala.



 
 
 

Menumpang bus sederhana full music, Saya melanjutkan perjalanan ke Pokkhara. Selama enam jam bus ini melaju kencang diatas jalan yang bumpy akibat lubang dan rusak. Bersamaan dengan bus yang melintas keluar dari Nayapool, langit mulai mendung dan gerimis turun.

Saya memandangi jalan yang dilewati sambil terus mengucapkan syukur dalam hati untuk pengalaman ini. Melewati kejadian demi kejadian yang penuh kejutan. Menahan beban berat dipunggung dan melawan dinginnya udara yang semakin tinggi semakin tipis. Kedua kaki Saya akhirnya bisa meninjak salju di Himalaya. Sesuatu yang bahkan tidak pernah terbayang sebelumnya.





Kalau kalian baca sampai kalimat ini, terima kasih ya. Saya tahu part ini panjaaaang, fotonya juga banyak sekali kaya flickr. Tapi semoga bermanfaat ya!

You May Also Like

8 comments

  1. Nice story! Foto-fotonya keren banget!

    ReplyDelete
  2. Halo, april besok saya mau solo trekking ke ABC. Kira" ada kemungkinan kamar di tea house penuh gak ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo... ABC cukup aman kok di bulan April, high seasson biasanya bulan Oktober/November.

      Delete
  3. Nice story nice info kak. Klo saya rencana cuma punya 3 hari di nepal brrti ga bisa ke kawasan ABC😭😭

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai... Coba city tour aja.. Bakhtapur juga worth it banget sih..

      Delete